Just A Simply Thing To Be Posted
Apa yang kau alami kini
Mungkin tak dapat engkau mengerti
Satu hal tanamkan di hati
Indah semua yang Tuhan beri
Tuhanmu tak akan memberi
Ular beracun pada yang minta roti
Cobaan yang engkau alami
Tak kan melebihi kekuatanmu
Tangan Tuhan sedang merenda
Suatu karya yang agung mulia
Saatnya kan tiba nanti
Kau lihat pelangi kasih-Nya
“… tempat itu, Bapa …”
Seorang lelaki tua duduk di bawah hujan yang deras malam itu.
Punggungnya memang lebar.
Tapi terlihat tak cukup luas untuk menanggung semuanya.
Tangannya memang besar dan kokoh.
Tapi tak cukup kuat untuk membawa semuanya.
Semuanya … semuanya tidak mengerti apa itu … dan tidak ada yang mau mengerti …
Sebelah tangannya dikepitkan di antara dua pahanya yang dirapatkan semenjak dari tadi.
Memang dingin waktu itu.
Sebelah tangannya yang lain memegangi dahinya sambil sesekali memijat-mijatnya dengan jarinya.
Memang panas hatinya waktu itu.
“… biarkan aku ke sana …”
Di bagian lain tempat itu, seorang manusia lain berdiri.
Senyumnya lebar.
Sesekali tertawa nyaring.
Tak ada seorang pun yang tahu.
Ia berperang dengan dirinya sendiri kini.
Menanya hatinya sendiri.
Dapat dibenarkankah apa yang dia perbuat sekarang?
Puaskah ia dengan keadaan seteru hatinya sekarang?
Legakah hatinya setelah pelampiasan ini?
Semuanya sekarang berperang melawan dirinya sendiri.
Kenapa mesti begitu?
Dia senang tapi tidak.
Dia puas tapi tidak.
Dia bahagia tapi tidak.
Di balik senyum dan tawanya, ketidak bahagiaan adalah bagian terbesar di hatinya sesungguhnya.
Semuanya terasa begitu melelahkan …
Sumpah melelahkan …
“… kekekalan di sana juga sama dengan milikku di sini, Bapa …”
Ah, pembenaran karena darah yang sama memang omongan yang sama sekali tidak kosong tapi paling sialan …
“… apa yang kau alami kini mungkin tak dapat engkau mengerti …”

Leave a Reply