Been So Idiot

Some Text Have Been Blocked…

Archive for January 2009

Ralat Ralat Ralat …

without comments

Hai hai hai!
Kemaren ini, Agus sms gue. Gue kira dia kangen ama sahabatnya yang ngegemisin ini.
Tapi ternyataaaaa…… ternyata….. ternyata sodara-sodara, doi sms gue cuman mau nagih jaketnya yang gue pinjem. Hahahaha!

Waktu terakhir maen bareng, Agus meminjamkan jaketnya kepada gue yang kedingin waktu itu.
Berarti udah sebulanan jaketnya ada di rumah gue. Sorry to do that. Mama gue tetep lupa, walopun uda gue wanti-wanti suruh balikin ke rumah lo yang cuman beda beberapa rumah sama rumah gue.
Abis dia sms, gue langsung telpon mama gue dan minta tolong (baca: dengan paksa) dia balikin jaketnya saat itu juga nggak-pake-lama-apalagi-nanti-buruan. Yeah!

Sampe malemnya, gue nelpon Agus buat mastiin apakah jaketnya sudah meluncur ke tempatnya dengan selamat tanpa kekurangan apapun.

Agus : “Apa, Mimin!?”
Gue : “Lo dimana?”
Agus : “Di jalan”
Gue : “Mau kemana mang?”
Agus : “Nggak tau”
Gue : “….. okehlah … Jaket lo uda ada di lo kan?”
Agus : “Hah?! Oh, udah kok! Lama banget siy lo balikinnya?!!!”
Gue : “Mama gue. Lupa mulu balikin ke tempat lo ah!”
Agus : “Oh, it’s ok. Ehm …. tapi …”
Gue : “Iya…? Kenapa?”
Agus : “Eh, dimana yah gue sekarang? Ya ampun ….”
Gue : “Heh?!”

Yah, Agus memang agak sedikit aneh.
Ups! Gue udah janji sama dia, nggak mau nulis yang jelek-jelek tentang dia di blog gue yang keren ini. Lupain kalimat gue yang tadi yah …
Agus nggak aneh kok. Sumpah!

Beberapa hari yang lalu, Agus sempet baca blog ini dan doi marah-marah karena dia merasa difitnah! Dicemarkan nama baiknya! Diusik kehidupan pribadinya!
Yah, Agus terobsesi untuk menjadi artis sesungguhnya.

Oh yah, dia mengkonfirmasi sebuah hal yang … yang baru gue tau … yang mungkin bisa meralat postingan gue sebelumnya.
Bahwasanya, bf-nya Yusman Farida sesungguh-sungguhnya bernama Handoko. Bukan Budi. Bukan juga Christian.
Di postingan gue sebelumnya, gue bilang kalo namanya Ko Christian. Ternyata bukan. Sori, Ko! Peace yooo …. ^^

Gue : “Masa?!”
Agus : “Iya”
Gue : “Serius?!”
Agus : “Namanya Handoko. Bukan Christian!”
Gue : “Tau dari mana?!”
Agus : “Kemaren kan ngirim sms ucapan selamat ulang taun ke gue. Di bawahnya ada namanya. Farida & Handoko”
Gue : “Oooo…”

Buat Ko Christian. Eh Ko Handoko, maksud gue … Sori atas kedodolan kita dan ke sok tauan kita memangilmu dengan bermacam-macam sebutan.
Tapi akhirnya, kita tau namamu yang sebenarnya, Ko. Heuheuheu! (tawa puas)

Next task : Meyakinkan Ronny, kalo bf-nya Yusman Farida adalah Ko Handoko adanya. Bukan Ko Budi, Ko Christian, apalagi Ko Ajeng. The hardest task … :(

Written by Mariana Novelia

Tuesday, January 27, 2009 at 10:58 pm

Posted in Idiot Things

Just A Simply Thing To Be Posted

without comments

Apa yang kau alami kini
Mungkin tak dapat engkau mengerti
Satu hal tanamkan di hati
Indah semua yang Tuhan beri

Tuhanmu tak akan memberi
Ular beracun pada yang minta roti
Cobaan yang engkau alami
Tak kan melebihi kekuatanmu

Tangan Tuhan sedang merenda
Suatu karya yang agung mulia
Saatnya kan tiba nanti
Kau lihat pelangi kasih-Nya

“… tempat itu, Bapa …”

Seorang lelaki tua duduk di bawah hujan yang deras malam itu.
Punggungnya memang lebar.
Tapi terlihat tak cukup luas untuk menanggung semuanya.
Tangannya memang besar dan kokoh.
Tapi tak cukup kuat untuk membawa semuanya.
Semuanya … semuanya tidak mengerti apa itu … dan tidak ada yang mau mengerti …
Sebelah tangannya dikepitkan di antara dua pahanya yang dirapatkan semenjak dari tadi.
Memang dingin waktu itu.
Sebelah tangannya yang lain memegangi dahinya sambil sesekali memijat-mijatnya dengan jarinya.
Memang panas hatinya waktu itu.

“… biarkan aku ke sana …”

Di bagian lain tempat itu, seorang manusia lain berdiri.
Senyumnya lebar.
Sesekali tertawa nyaring.
Tak ada seorang pun yang tahu.
Ia berperang dengan dirinya sendiri kini.
Menanya hatinya sendiri.
Dapat dibenarkankah apa yang dia perbuat sekarang?
Puaskah ia dengan keadaan seteru hatinya sekarang?
Legakah hatinya setelah pelampiasan ini?
Semuanya sekarang berperang melawan dirinya sendiri.
Kenapa mesti begitu?
Dia senang tapi tidak.
Dia puas tapi tidak.
Dia bahagia tapi tidak.
Di balik senyum dan tawanya, ketidak bahagiaan adalah bagian terbesar di hatinya sesungguhnya.
Semuanya terasa begitu melelahkan …
Sumpah melelahkan …

“… kekekalan di sana juga sama dengan milikku di sini, Bapa …”

Ah, pembenaran karena darah yang sama memang omongan yang sama sekali tidak kosong tapi paling sialan …

“… apa yang kau alami kini mungkin tak dapat engkau mengerti …”

Written by Mariana Novelia

Monday, January 26, 2009 at 12:41 am

Posted in Entah, Uncategorized